Timnas U-23 hanya mampu menempati peringkat ketiga Turnamen Batik Cup di Stadion Manahan. Bahkan timnas harus bersusah-payah untuk menaklukkan tim Divisi Utama All Star U-23 pada laga di Stadion Manahan, Minggu (21/10). Kemenangan 1-0 atas tim DU All Star dicetak dari titik penalti menyusul dijatuhkannya Andik Vermansyah. Eksekusi penalti dituntaskan oleh  Syaiful Indra.

Skuat Garuda Muda sesungguhnya berpeluang menambah gol di menit ke-63. Lagi-lagi timnas mendapat hadiah penalti setelah salah seorang pemain DU All Star menyentuh bola di kotak penalti. Kali ini Hendra Adi Bayaw yang tampil sebagai eksekutor.

Namun, dia gagal menuntaskannya.  Tendangannya mampu diblok kiper DU All Star Yudha Prananta. Skor tak berubah untuk keunggulan timnas hingga laga usai.

Asisten pelatih Liestiadi mengakui bila penampilan timnas masih di bawah performa. Bahkan Fandi Eko Utomo dkk tampil lebih baik saat dikalahkan Persis Solo Selection lewat adu penalti.

“Pemain tampil di bawah performa. Penampilan mereka tidak seperti saat melawan Persis Solo. Bukannya kami mencari alasan, namun pemain kami kelelahan karena dalam dua hari  berturut-turut selalu bermain,” jelas Liestiadi.

Liestiadi pun mengakui hasil buruk timnas di Batik Cup. Namun, dia tak segan memuji semangat pantang menyerah pemain. Hal sama diperlihatkan para pemain DU All Star.

“Anak-anak memang bermain buruk karena persiapan yang tak panjang. Selain itu, pemain DU All Star juga tampil dengan motivasi tinggi. Sebagian besar di antara mereka tak lain pemain timnas yang dicoret. Mereka ingin membuktikan bahwa pencoretan itu salah dan sesungguhnya pantas masuk timnas,” katanya.

“Semangat ini patut dipertahankan karena bisa jadi mereka dipanggil kembali. Sepanjang persiapan tim, pelatih menerapkan sistem promosi dan degradasi kepada pemain. Ini akan terus dilakukan, terutama saat kompetisi akan bergulir kembali,” pungkas Liestiadi. (goal.com)