SURABAYA – Kemenangan Jokowi dalam pilgub DKI Jakarta sungguh berkesan bagi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Setidaknya, hal itu tergambar dalam pidato pembukaan Rakernas II DPP PDIP di Pakuwon Imperial Ballroom, Surabaya, kemarin (12/10).

Lebih dari enam paragraf pidato Mega menyebut tentang kemenangan mantan wali Kota Solo tersebut. Mega juga menyimpulkan bahwa kemenangan Jokowi merupakan bentuk evolusi politik. “Sebab, rakyat mau menceburkan diri langsung dalam politik. Terutama yang menyangkut kepentingannya,” terang dia.

Dia menungkapkan, tagline menangis dan tertawa bersama rakyat sebagaimana yang disampaikannya dalam kongres merupakan dasar politik PDIP. “Inilah Saudara-Saudara pelajaran besar yang kita petik dari kemenangan pilgub DKI. Selalu bersama rakyat, dalam tawa dan tangis, adalah kuncinya,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Mega juga menguraikan konsep trisakti yang dicetuskan ayahnya yang juga proklamator RI, Soekarno. Tiga konsep tersebut adalah berdaulat di bidang politik, berdiri di atas kaki sendiri dalam perekonomian, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Selain itu, Mega menyoroti konflik antara KPK versus Polri yang merupakan bukti ketidaktegasan pemimpin (baca: SBY). Menurut dia, pemimpin sekarang sering meninggalkan konsep trisakti. “Situasi Indonesia sekarang jauh dari tiga hal tersebut,” tuturnya.

Mega lantas membeberkan satu per satu contohnya. Pertama, belum berdaulat di bidang politik. Contoh sederhana adalah masih diberlakukannya KUHP yang merupakan warisan kolonial Belanda.

Kedua, yang menjadi masalah besar, adalah berdiri di atas kaki sendiri. “Indonesia itu gemah ripah loh jinawi. Tapi, kenapa semua pangan penting kita harus impor?” ujarnya.

Dia kemudian menyebut kedelai, gula, garam, hingga beras yang semua kini dikuasai barang impor. Petani kita tenggelam di kandang sendiri. “Ini sangat ironis. Apa yang kurang dengan tanah Indonesia” Secara bodoh-bodohan, kenapa tidak ramai-ramai menanam kedelai, misalnya, sehingga tidak perlu terjadi krisis tempe,” tegasnya. Belum lagi banyaknya sendi perekonomian yang dikuasai pihak asing.

Ketiga, berkepribadian dalam kebudayaan. Kali ini Megawati tampil cukup kaya dengan humor ketika membahas tema tersebut. Dia mencontohkan anak muda yang krisis idola. “Kalau idola zaman saya itu masih Bob Tutupoly dan dia tidak aneh-aneh,” katanya.

Tapi, sekarang, yang menjadi idola adalah selebriti yang baru keluar dari penjara karena kasus asusila. Yakni, Ariel NOAH. “Itu kan menunjukkan bahwa saat ini kita kurang berkepribadian dalam kebudayaan,” ucapnya.

Rakernas II PDIP kemarin dibuka tepat waktu pukul 14.45. Namun, kesibukan di tempat acara berlangsung sejak pagi. Megawati memasuki tempat acara dan mulai berpidato pukul 15.10.

Seluruh petinggi PDIP hadir. Termasuk Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo serta seluruh ketua DPP. Hadir pula gubernur DKI terpilih Joko Widodo (Jokowi). Kehadiran Jokowi langsung mencuri perhatian massa. Dia pun kebanjiran ucapan selamat.

Sayangnya, agenda Jokowi sangat singkat di Surabaya dan tidak ada agenda wawancara dengan sosok fenomenal di dunia politik tersebut. Begitu Mega selesai berpidato dan membuka acara, Jokowi langsung meninggalkan tempat acara untuk persiapan pelantikan dirinya pada 15 Oktober nanti.

Acara yang dihadiri sekitar 1.500 wakil dari DPC dan DPD PDIP seluruh Indonesia tersebut langsung mengadakan pleno pertama tadi malam. Hari ini (13/10) rencananya acara pleno kedua digelar sejak pukul 08.30. “Sejumlah tokoh akan menjadi narasumber dalam acara hari ini,” jelas Bambang D.H., ketua panitia lokal rakernas II. (jpnn)