JAKARTA–PT Pertamina (Persero) menargetkan tambahan produksi sebanyak 32.000 barel per hari (bph) dari aksi akuisisi sejumlah blok migas di dalam dan luar negeri pada tahun ini. Tambahan produksi itu dalam jangka pendek sangat signifikan untuk membantu pemerintah dalam upaya menjaga ketahanan energi nasional.

“Pertamina menargetkan akuisisi sekitar 5 area migas hingga akhir tahun ini dengan potensi tambahan produksi sebesar 32.000 bph,” kata Karen Agustiawan, dirut Pertamina di Jakarta, Selasa (9/10).

Pertamina akan mengutamakan akuisisi pada area-area yang telah berproduksi, sehingga hasilnya dapat secara cepat dimanfaatkan untuk mendukung upaya pemenuhan kebutuhan energi nasional. Meski, dengan harga minyak mentah yang berada di level tinggi saat ini kesempatan untuk melakukan akuisisi tersebut tidaklah banyak.”Kami mengapresiasi para mitra yang bersedia duduk satu meja membicarakan kerangka kerja sama saling menguntungkan di masa depan,” katanya.

Karen melanjutkan, dukungan pemerintah melalui pembicaraan antarpemerintahan (government to government/G to G) juga sangat penting, mengingat posisi Pertamina sebagai BUMN migas.

Menurut Karen, tambahan produksi itu dalam jangka pendek sangat signifikan untuk membantu pemerintah dalam upaya menjaga ketahanan energi dan juga memacu pertumbuhan ekonomi nasional. “Pertumbuhan ekonomi yang pesat, akan berbanding lurus peningkatan permintaan energi yang akan terus meningkat,” tuturnya.

Di sisi lain, cadangan minyak bumi nasional semakin menipis sehingga diperlukan terobosan penting untuk menjaga ketahanan energi guna menyokong pembangunan secara berkesinambungan. “Pertamina sebagai perusahaan negara terus bertekad meningkatkan produksi minyak dan gas bumi hingga 2,2 juta barel setara minyak per hari pada 2025,” paparnya

Sementara itu, terkait dengan proses akuisisi Petrodelta SA, anak perusahaan Harvest Natural Resources Inc (HNR), Karen menyatakan, pihaknya sedang dalam proses pembicaraan untuk memeroleh persetujuan pemegang saham atas transaksi tersebut. Pertamina optimistis proses persetujuan tersebut dapat diselesaikan sesuai jadwal yang telah disepakati dalam perjanjian.”Pemberitaan media yang menyatakan bahwa transaksi itu digantungkan pada hal-hal yang berada di luar dari transaksi yang telah diperjanjikan secara tertulis adalah sesuatu yang spekulatif,” tegas dia.

Pertamina, imbuhnya, tetap berkomitmen untuk berusaha merealisasikan transaksi tersebut dan sejalan dengan kebijakannya sebagai suatu entitas bisnis, tidak akan mengomentari spekulasi apa pun juga menyangkut transaksi itu.

Sebagaimana diketahui, Pertamina telah menandatangani Share Purchase Agreement (SPA) dengan Harvest untuk mengakuisisi kepemilikan efektif 32 persen saham Petrodelta, SA di Venezuela. Pertamina dan mitra memiliki waktu hingga akhir Maret 2013 untuk memenuhi seluruh persyaratan perjanjian, seperti persetujuan pemegang saham Pertamina, Harvest, dan pemerintah Venezuela.

Lapangan Petrodelta mengandung cadangan terbukti dan mungkin (proven & probable/2P) total sekitar 486 juta barrel ekuivalen minyak bumi (mmboe). Kandungan cadangan hidrokarbon tersebut lebih besar dibandingkan dengan cadangan Blok Cepu, yang merupakan penemuan terbesar di Indonesia selama 10 tahun terakhir.