CIREBON– Orang miskin dilarang sakit! Sindiran keras mengenai sulitnya orang miskin mendapatkan layanan kesehatan itu, benar-benar terjadi.Seorang pasien RSUD Arjawinangun, Agus (25), meninggal dunia diduga karena tidak ditangani secara serius oleh pihak rumah sakit.

Warga miskin asal Desa Sindangjawa, Kecamatan Dukupuntang, Cirebon ini tak tertolong pada Jumat malam lalu (5/10) akibat infeksi tetanus. Pihak rumah sakit mengatakan tak punya obat antitetanus saat Agus dirawat.

Kemarin (8/10), sejumlah aktivis LSM mendatangi RSUD Arjawinangun guna mengklarifikasi kejadian itu. Ade Saefudin, aktivis GNPK Kabupaten Cirebon, mengatakan, apa yang dilakukan pihak RSUD Arjawinangun merupakan bentuk kelalaian. Dia tak habis mengerti kenapa rumah sakit sekelas RSUD Arjawinangun tidak memiliki stok obat antitetanus. Tak hanya itu, ketika pasein pertama kali dibawa ke rumah sakit harus menyediakan uang Rp1 juta untuk biaya perawatan.

“Bayangkan, dia anak sebatang kara, rumahnya baru terbakar. Jangankan uang, untuk hidup saja ia dibantu para tetangganya,” ungkap Ade.

Dijelaskan, pada Kamis lalu (4/10) Agus sakit dan oleh tetangga serta sanak keluarga dibawa ke puskesmas yang tak jauh dari rumahnya. Tapi karena harus mendapatkan pelayanan perawatan medis, pihak puskesmas merujuk Agus ke RSUD Arjawinangun. Tepat pada pukul 03.00 dini hari Agus dibawa ke RSUD Arjawinangun.

“Namun, sesudah masuk rumah sakit dibiarkan begitu saja, jika ingin mendapatkan pelayanan harus ada uang Rp1 juta,” jelasnya.

Ade melanjutkan, ketika pagi hari saat pihak keluarga mempertanyakan kepada petugas rumah sakit mengenai pelayanan yang tidak kunjung diberikan, pihak rumah sakit menjelaskan kehabisan obat tetanus. “Ini kan sesuatu yang keliru, ini rumah sakit ada sistem yang harus dibangun. Jika obat habis, harusnya bisa segera dilaporkan kepada pihak terkait. Jangan biarkan pasien menderita,” sesalnya.

Sementara Ketua Forum Pekerja Mandiri (FPM) Kabupaten Cirebon, Tarma mengatakan, apa yang terjadi pada Agus karena kebijakan bupati yang tidak prorakyat kecil. Dia mengatakan, Agus tidak mendapatkan pengobatan hingga siang hari dengan alasan kehabisan obat. Padahal, penyakit Agus sudah cukup parah dan harus segera mendapatkan penanganan. “Alasannya tidak ada obat dan lain-lain, padahal itu sudah kritis,” kata Tarma.

Sedangkan Wakil Direktur Pelayanan RSUD Arjawinangun dr H Ahmad Qoyyim MARS mengakui Kamis malam (4/10) atau saat pertama kali Agus masuk rumah sakit, obat antitetanus tidak tersedia di rumah sakit.

Akibatnya, pasien pun tak ditangani. Setelah dicek ke kantor rumah sakit yang lama, lanjut Ahmad Qoyyim, pihaknya akhirnya mendapatkan obat yang dimaksud. Dan pada Jumat pagi (5/10) pasien langsung diberi obat antitetanus sesuai dosis yang dianjurkan dokter. Tapi malam harinya Agus meninggal dunia.

“Jadi kami tidak menolak pasien. Ini karena kegagalan komunikasi sehingga menyimpulkan seperti itu (menolak pasien),” kata Ahmad Qoyyim di hadapan pengurus GNPK Kabupaten Cirebon.

Dia juga mengakui pihak rumah sakit belum mendatangi keluarga pasien untuk menyampaikan belasungkawa. “Belum sempat dilakukan karena berbagai faktor. Namun, setelah audiensi ini RSUD Arjawinangun akan segera mengambil tindakan. Bertemu keluarga itu pasti,” bebernya.

Dia pun berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi RSUD Arjawinangun guna meningkatkan pelayanan sehingga pasien tak telantar lagi. “Pada prinsipnya rumah sakit tidak membeda-bedakan pasien, seluruh pasien dilayani dengan baik. Kita akui kalau tidak sempurna, Insya Allah akan diperbaiki dengan melakukan pembinaan terhadap para karyawan kami,” tandas Ahmad Moqoyyim. (jun/sam/jpnn)