Sejumlah wilayah di bumi Khatulistiwa diguyur hujan es, Minggu (7/10) sore. Fenomena alam ini diketahui terjadi di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya . Hujan lebat disertai angin kencang itu berlangsung sekira satu jam yang dimulai pukul 14.00. Namun hujan disertai es tidak lama, tidak sampai sepuluh menit.

Hujan es tidak merata, hanya terjadi di beberapa kawasan. Di Pontianak Tenggara, sebagian warga Jalan Imam Bonjol-Adisucipto mengetahui fenomena alam itu. Suara es yang jatuh di atap nyaring. Es sebesar kelereng yang sampai ke tanah tidak bertahan lama, cepat mencair. Ruslan, pedagang gerobak di Jalan Imam Bonjol tidak berani keluar dari gerobaknya karena hujan es tersebut, padahal dia ingin memetik es untuk menjamahnya. “Suaranya nyaring sekali. Sudah puluhan tahun saya tidak mengalaminya. Dulu waktu kecil pernah juga hujan es di sini,” katanya.

Warga di Jalan Untung Suropati, Pontianak Selatan juga mengalami hujan es ini. Ita warga Kompleks Palapa mengatakan, es berserakan di teras depan rumah dan dapurnya. “Banyak es teras depan dan belakang,” ujarnya.

Hujan es sebenarnya bukan baru kemarin terjadi di Pontianak. Selasa (2/10) warga Pontianak Timur dihebohkan dengan hujan lebat, angin kencang disertai dengan es. Kemarin pun warga di Pasar Seruni, Pontianak Timur mengalami hal serupa. “Hujan es lagi sekarang. Padahal beberapa hari lalu juga ada hujan es di sini,” kata Hasan warga Veteran yang berdagang di Pasar Seruni.

Bahkan Hasan mengatakan dalam satu bulan terakhir dirinya mengalami tiga kali hujan es. “Kalau tidak salah ini ketiga kalinya hujan es,” ungkapnya.

Fenomena hujan es juga terjadi di Kubu Raya. Diperkirakan hanya sekira lima menit. “Ya hujan sebentar namun disertai dengan guyuran bongkahan es,” ujar M Yani Tokoh pemuda Kubu Raya saat kejadian berada di Sungai Raya Dalam.

Guyuran air berbentuk bongkahan es, rupanya menjadi mainan anak-anak. Beberapa anak bahkan sempat mengambilnya untuk dikumpulkan. Yang pasti hujan es cukup mengejutkan warga. “Memang tidak merusak rumah, jatuhnya langsung ke tanah dan esnya langsung mengecil kemudian menjadi air,” katanya.

Beberapa anak dan orang tua berebutan mengambil butiran es. Beberapa bahkan  ada yang mengabadikan gambarnya. “Bongkahan es ini fenomena langka. Ini bisa rahmat dan  rejeki,” ucap politikus Golkar ini.

Sebelumnya, pada 2010 hujan es juga pernah mengejutkan warga Sanggau Kulor, Singkawang Timur. Kala itu es yang jatuh pun didahului hujan lebat dan angin kencang.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak, Sutikno mengatakan, hujan es bisa terjadi di mana saja. Di Kalbar pun diduganya sering terjadi hujan es, hanya saja orang tidak mengetahui karena mungkin tidak terjadi di permukiman. “Mungkin esnya jatuh di hutan sehingga orang tidak tahu. Kalau yang sekarang kebetulan di kota,” tuturnya.

Hujan es bisa terjadi karena terdapat pembentukan awan hujan yang volumenya besar. Awan yang berada di lapisan atas membeku dan tidak sempat mencair ketika sampai di bumi. Awan yang berada lapisan bawah pun kerap membeku namun saat sampai di bumi sudah mencair. “Pada musim transisi antara kemarau dengan penghujan seperti sekarang memang ada potensi hujan es,” jelas Sutikno.

Di Pontianak yang dilintasi garis khatulistiwa potensi pembentukan es di awan justru cukup tinggi karena volume uap air yang diangkat lebih besar. Hujan es kerap terjadi ketika matahari berada tepat di tengah, seperti yang terjadi di Pontianak saat ini. “Kalau pada Desember sampai Februari nanti matahari akan bergeser ke selatan. Dalam waktu itu hujan es akan berpeluang terjadi di Jawa seperti Bandung,” paparnya.

Dalam satu pekan ini sudah dua kali Kota Pontianak dan sekitarnya termasuk Kubu Raya dilanda hujan lebat dan angin kencang yang mengakibatkan beberapa rumah rusak. Sutikno mengingatkan hal ini masih harus diwaspada. Karena beberapa hari ke depan, kata dia, potensi hujan lebat dan angin kencang masih ada. “Sekarang dan ke depan tidak hanya di Pontianak dan Kubu Raya, Kalbar bagian selatan seperti Ketapang dan Kayong Utara juga harus waspada,” ingatnya.

Bisa Rusak Wilayah
Di laman http://socialeone.blogspot.com /2012 dijabarkan kalau hujan es sulit terjadi. Fenomena ini harus ditunjang kondisi tepat. Pertama, hadirnya awan kumulonimbus, lalu adanya arus udara atas—bawah yang membekukan air hujan di puncak awan. Kemudian menurunkannya ke tempat lebih hangat lalu menghimpun kelembapan sebelum siklus berulang. Semakin sering hal ini terjadi, semakin besar ukuran hujan es dan kerusakan yang ditimbulkannya. Dan hujan es seukuran bola bisbol, pernah jatuh di Kansas, Amerika Serikat pada Mei 2007.

Sebagian besar hujan es terjadi di daerah lintang 30-60 derajat dari garis Khatulistiwa, di dataran yang anginnya bertiup dari jajaran pegunungan besar. Hujan es intens bisa terjadi setiap kali udara hangat dan lembap tertolak ke tempat tinggi, di wilayah khatulistiwa. Di Kota Kericho, kawasan kebun the seluas 2.175 meter diatas permukaan laut di Negara Kenya lebih sering diterpa hujan es berhari-hari dibandingkan tempat lain.

Dan pada tahun 2009 sedikitnya 306 badai es destruktif pada 16 negara bagian merusak hasil panen. Bahkan bangunan senilai lebih dari lima triliun di AS juga ikut hancur. Para ahli khawatir, musim panas lebih hangat dan lembab akan mengakibatkan jumlah hujan es meningkat.(hen/den)