Ada temuan menarik atas kemenangan sementara pasangan Joko Widodo Basuki Tjahaja Purnama—dikenal sebagai Jokowi-Ahok—dalam pemilihan Gubernur Jakarta. Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bersama MNC yang dirilis pada Minggu, 23 September 2012 menyebutkan kemenangan pasangan nomor urut 3 itu berefek positif buat Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dan bukannya kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Kemenangan Jokowi Untungkan Siapa?  

”Sebanyak 25 persen pencoblos Jokowi-Ahok akan memilih Prabowo jika pemilihan presiden dilakukan saat ini. Sedangkan Megawati hanya mendapatkan 13 persen suara dari pemilih pasangan ini,” kata Direktur Utama SMRC, Grace Natalie, Minggu, 23 September 2012.

Ini merupakan hasil survei atas 800 responden setelah mencoblos pada pemilihan gubernur putaran kedua, 20 September 2012. Survei ini berlangsung setelah hari pencoblosan putaran kedua. Dari 800 responden, sebanyak 59 persen tak tahu bahwa Prabowo dipecat karena kasus penculikan aktivis. Sebanyak 39,7 persen responden mengatakan tahu dan 1,3 persen lainnya tidak mengerti.

Menurut Grace, ada alasan kuat mengapa kemenangan ini malah menguntungkan Prabowo dibandingkan Megawati. Mayoritas warga Jakarta tidak tahu mantan komandan Komando Pasukan Khusus (Kopasus) itu pernah tersandung kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia. Kasus inilah yang membuat jenderal bintang tiga itu dipecat dari dinasnya sebagai perwira TNI.

”Mayoritas pemilih DKI Jakarta tidak mengetahui rekam jejak Prabowo, padahal karakteristik pemilih mayoritas berpendidikan tinggi,” kata Grace.

Pengamat politik Lembaga Survei Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, berpendapat pemilihan Gubernur DKI sebagai momentum untuk menghapus citra negatif Prabowo. Soalnya, selama ini Prabowo selalu dikaitkan dengan tragedi penculikan sejumlah aktivis pada 1998 dan kekerasan terhadap kelompok etnis Cina dalam kerusuhan pada tahun yang sama. »Dengan mengusung Ahok, setidaknya citra Prabowo yang anti-etnis Cina sudah dinetralisir,” ujarnya.

Di lain pihak, pemilihan Gubernur DKI kurang berpengaruh bagi pencalonan Megawati karena beda kelompok pendukung. »Basis dukungan Megawati bukan di perkotaan, tapi di pedesaan,” Burhanuddin berujar.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengakui kemenangan pasangan Jokowi-Ahok menguntungkan Prabowo. Tapi dukungan partai bukan untuk mendongkrak popularitas Prabowo. Fadli juga menolak jika itu dikaitkan sebagai percobaan menghadapi pemilihan presiden 2014.

»Wajar diuntungkan kalau mendukung calon yang membawa perubahan, baik, dan kemudian menang. Tapi kemenangan ini menguntungkan rakyat Jakarta,” kata dia.

Fadli juga menyangkal bahwa dukungan Ahok yang beretnis Tionghoa merupakan usaha Prabowo untuk menghapus kesan ketidakberpihakannya kepada etnis tersebut.

Ketua Dewan Pengurus Pusat PDI Perjuangan, Maruarar Sirait, tidak khawatir jika ketua umumnya disebut kalah populer dibandingkan dengan Prabowo. Menurut dia, sejak awal mengajukan Jokowi sebagai calon gubernur, Megawati tidak berniat mempolitisasi demi kepentingan pribadi. ”Masyarakat Jakarta juga tahu dari partai mana Jokowi itu,” kata dia.

Adapun politikus PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, menilai survei yang dilakukan SMRC terlalu gegabah. »Terlalu dini untuk mengukur pemilihan presiden dan mengkaitkan pilkada sebagai barometer pemilihan presiden,” kata anggota DPR ini.

 

sumber : tempo.co.id