Temuan lembar papirus kuno berbahasa Koptik yang mengutip “pernyataan” yang merujuk pada kata “istri saya” merupakan kalimat pertama yang terekam dengan jelas yang mendukung klaim bahwa Yesus pernah menikah.

Demikian dinyatakan ilmuwan Harvard yang mengungkap fragmen peninggalan sejarah yang diperkirakan berumur 1.700 tahun, Rabu (19/9).

Meski begitu, Karen King, profesor Harvard Divinity School yang pertama mengungkap hal ini mengatakan, temuan fragmen pernyataan itu belum menjadi jawaban sejarah yang pasti tentang apakah Yesus memiliki pasangan.

“Ini bukan jawaban final atas pertanyaan itu,” ujar King kepada Reuters di Roma, tempat ia mempresentasikan temuannya.

Di dalam fragmen kuno berukuran 8 cm kali 4 cm itu terdapat tulisan dalam bahasa Koptik kuno yang berbunyi “Yesus berkata kepada mereka, istri saya…”

Sementara bagian lain dari fragmen itu berisi kalimat “ia (perempuan) akan menjadi murid saya”.

“Saya pikir fragmen itu sendiri membicarakan soal pengangkatan murid dan keluarga. Tapi tentu fakta bahwa ini adalah pernyataan tegas pertama yang kita miliki tentang klaim bahwa Yesus punya istri, sangat menarik,” ujar King.

King mempresentasikan temuannya pada sebuah Kongres Studi Koptik di sebuah universitas yang dikelola Vatikan, berlokasi tepat di seberang Lapangan Santo Petrus. Sebelumnya, temuan itu diumumkan pihak Harvard, pada Selasa (18/9).

Fragmen catatan kuno itu diberikan kepada King oleh seorang kolektor untuk kepentingan studi dan diyakini ditulis pada sekitar abad ke empat dengan menggunakan dialek Koptik yang digunakan di wilayah utara Mesir.

“Saya ingin mendapatkan kejelasan seterang-terangnya bahwa fragmen catatan itu tidak memberi kita bukti bahwa Yesus menikah atau tidak menikah,” ujarnya dalam wawancara di sela kongres tersebut.

Namun, King yang merujuk temuannya sebagai The Gospel of Jesus’ Wife berharap catatan kuno tersebut akan membantu umat Kristiani dan para teolog menjawab sejumlah persoalan rumit terkait seksualitas dan peran perempuan seperti dibahas Gereja pada periode terdahulu dan hingga sekarang masih menjadi pembahasan.

Tradisi Kristiani sudah sangat lama meyakini bahwa Yesus tidak menikah dan Gereja Katolik, yang sejauh ini paling berpengaruh dalam komunitas Kristiani, menyebutkan bahwa perempuan tidak bisa menjadi pastor sebab Yesus hanya memilih kaum lelaki sebagai murid-muridnya.

“Ini akan menjadi hal yang paling penting dalam sejarah awal ke-Kristen-an dan karena itu juga untuk para teolog yang digambarkan dalam sejarah,” ujar perempuan profesor ini.

Wacana bahwa Yesus menikah berulang kali di tengah budaya popular saat ini. Hal yang paling menggemparkan terjadi pada karya best seller Dan Brown, The Da Vinci Code yang dipublikasikan tahun 2003.

Karya tersebut memicu kemarahan Vatikan sebab Dan Brown mendasarkannya pada gagasan bahwa Yesus telah menikah dengan Maria Magdalena dan dari pernikahan itu melahirkan anak-anak. (Reuters/sae)