Bagaimana cara kerja ilmu Grafologi dan rahasia kepribadian yang bisa dikuak lewat ilmu psikologi ini?
Berikut hasil wawancara dengan Ihsan Satyanugraha, salah satu buku Menguak Rahasia Tulisan Tangan dan Tanda Tangan. Buku ini ditulis bersama Dyan R Helmi.

Tolong dijelaskan secara singkat, soal Grafologi dan kapan kira-kira ilmu ini masuk ke Indonesia ?

Seni membaca kepribadian melalui media tulisan tangan sudah dikenal dan digunakan sejak 6000 tahun yang lalu di peradaban Cina, Yunani dan Romawi. Buku pertama tentang tulisan tangan dibuat oleh seorang Itali, Camillo Baldi, pada tahun 1622.

Bagaimana cara kerja ilmu Grafologi dan rahasia kepribadian yang bisa dikuak lewat ilmu psikologi ini?
Berikut hasil wawancara dengan Ihsan Satyanugraha, salah satu buku Menguak Rahasia Tulisan Tangan dan Tanda Tangan. Buku ini ditulis bersama Dyan R Helmi.

Tolong dijelaskan secara singkat, soal Grafologi dan kapan kira-kira ilmu ini masuk ke Indonesia ?

Seni membaca kepribadian melalui media tulisan tangan sudah dikenal dan digunakan sejak 6000 tahun yang lalu di peradaban Cina, Yunani dan Romawi. Buku pertama tentang tulisan tangan dibuat oleh seorang Itali, Camillo Baldi, pada tahun 1622. Penyebutan istilah ‘grafologi’ diperkenalkan dan dipopulerkan pertama kali oleh Jean Michon, orang asal Prancis, pada abad ke-19. Grafologi sebagai ilmu modern kemudian dikembangkan oleh psikolog Amerika bernama Gordon Allport pada tahun 1930. Tidak diketahui kapan tepatnya ilmu ini masuk ke wilayah Indonesia. Namun kiranya ilmu ini masuk seiring masuk dan berkembangnya ilmu psikologi ke Indonesia, yakni di tahun 1950-an.

Grafologi, secara konkret bisa dimanfaatkan untuk apa saja di kehidupan sehari-hari ?

Secara sederhananya, Grafologi berguna untuk menebak kepribadian seseorang. Informasi tentang kepribadian seseorang tersebut tentunya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Dalam proses rekrut pegawai misalnya, grafologi dapat dijadikan sebagai salah satu perangkat seleksi. Di dunia pendidikan, grafologi bisa digunakan untuk mendeteksi problema yang sedang dialami peserta didik ataupun dalam mengukur kecerdasan si anak. Bahkan di ranah praktek terapi psikis, grafologi dapat pula dijadikan sebagai salah satu metode terapi/rehabilitasi. Jika dalam konteks pergaulan sehari-hari, pengetahuan grafologi seru juga untuk dijadikan sebagai bahan pengenalan dan pemahaman antar sesama kawan, walaupun sifatnya just having fun, iseng saja.

Darimana mengetahui presentase kebenaran hasil analisa ilmu Grafologi yang 80% itu? Paramaternya apa?
Ukuran 80 % itu diukur dari jumlah karakteristik yang dirasakan tepat oleh seseorang yang “dibaca” tulisannya. Contoh : saya membaca tulisan Mas Adi. Dari tulisan Mas Adi, saya menangkap ada 10 karakter (sifat) yang khas dari Mas Adi. Biasanya, dari 10 karakter yang terungkap itu, yang benar-benar dirasakan Mas Adi pas atau akurat itu cuma 80 % saja (8 karakter), sisanya (2 karakter) salah. Oleh karena itu, sebetulnya tolak ukur benar, pas, cocok atau akuratnya itu lebih bersifat subjektif. Karakter yang tidak sesuai itu bisa saja sebenarnya memang benar karakter si orang yang bersangklutan, hanya saja dia tidak menyadarinya. Masih berkaitan dengan contoh, 2 sifat sisa yang meleset tentang Mas Adi, di satu sisi bisa benar-benar “tebakan” yang meleset atau sebetulnya benar hanya saja Mas Adi tidak merasa.

Bisakah saat orang awam mengenal ilmu Grafologi dan akhirnya mengenal kelemahan-kelemahan pada diri, kemudian ia coba memperbaiki gaya tulisan tangannya dan apakah upaya ini bisa mengubah kepribadian atau psikologi orang tersebut?

Bisa. Saat kita menulis, secara tidak disadari, gerakan tangan kita itu dipengaruhi oleh proses-proses psikis yang ada dalam diri kita. Oleh karenanya, logis bila tulisan dapat mencerminkan kepribadian seseorang, kondisi psikis kita seolah keluar dan terekam dalam coretan-coretan tulisan. Karena sifatnya yang demikian, maka tak mustahil jika keadaannya dibalik; tulisan tangan kini yang dimanipulasi untuk merubah psikis. Tentu saja, titik beratnya ada pada sejauh mana kita berlatih dalam merubah tulisan tersebut.

Di balik tulisan tangan seseorang, hal apa saja yang mempengaruhi tulisan tangan seseorang dari sisi saraf motorik ataupun psikologi ?
Dari sisi saraf motorik nampaknya tidak banyak berpengaruh, karena penelitian para ahli membuktikan bahwa gangguan motorik ternyata tidak membuat tulisan tangan seseorang jadi sulit “terbaca” (kepribadiannya) atau menjadikan tulisannya berbeda total dengan orang yang normal (motoriknya tidak terganggu). Dari sisi psikologis, tulisan seseorang itu dipengaruhi oleh faktor intelegensi, emosi atau mood, konsentrasi, motivasi, sikap, kecemasan, stress dan proses mental lain-lainnya yang hadir pada saat individu sedang menulis.

Tulisan cepat atau stenografi apakah bisa dianalisis dengan ilmu Grafologi ?
Menurut pendapat kami, kecil kemungkinannya tulisan macam steno atau tulisan resep dokter dapat dianalisis. Karena tulisan seperti itu kurang mencerminkan kepribadian si penulis. Kenapa kurang mencerminkan ? Karena tulisan tersebut muncul lebih karena hasil belajar dan latihan khusus, “terlalu dibuat-buat”.

Saya menemukan beberapa orang yang bila tanda tangan selalu tidak sama, mesti ada perbedaan bentuk. Padahal ia sudah berlatih dan mencoba untuk tetap konsisten dengan gerakan tanda tangannya, namun tetap gagal. Menurut bung, penyebabnya apa? Bisakah diperbaiki?

Perbedaan setiap kali tanda tangan itu wajar. Kami jamin, tidak ada orang yang setiap kali tanda tangan, maka bentuk tanda tangan yang satu dengan yang lainnya itu sama persis. Secara garis besar mungkin sama, tetapi detail-detailnya pasti berubah, misal; tarikannya tidak sama panjang, bulatannya kurang satu dengan yang pertama, ukurannya mengecil dan lain-lain. Contoh :

Tanda tangan di atas tidak konsisten, tidak persis satu sama lain, padahal dilakukan oleh satu orang yang sama dan pada selisih waktu yang hampir bersamaan. Secara garis besar, memang sama, tapi coba perhatikan detailnya, semuanya hampir berubah dari tanda tangan pertama sampai terakhir. Misal; tanda tangan pertama tidak ada ekor di akhir huruf ‘O’, sedangkan di tanda tangan kedua dan ketiga ada. Tarikan pertama sudut huruf ‘A’ di tanda tangan pertama begitu tegas, sangat menyiku, adapun selanjutnya menjadi melingkar. Dan seterusnya.

Andaikata Mas Adi ialah seorang dosen. Anda sedang memeriksa daftar hadir para mahasiswa. Dari sekian mahasiswa, anda menemukan seorang mahasiswa yang tanda tangannya selalu sama persis. Maka Mas Adi mesti curiga sama si mahasiswa ini. Why ? Besar kemungkinan tanda tangan mahasiswa tersebut palsu alias ditanda tangani oleh orang lain alias cuma nitip absen.
Jadi, perubahan atau perbedaan tanda tangan itu wajar dan salah satu bukti ke-otentik-an. Coba deh periksa yang Mas Adi juga (tanda tangannya maksudnya), pasti yang Mas Adi juga terdapat perbedaan-perbedaan kecil di setiap tanda tangannya.

Seseorang yang bila lama tidak menulis tangan (karena keseringan menggunakan komputer), apakah bila dianalisis hasilnya berbeda saat masa-masa ia terbiasa menulis tangan ?
Jawab : Tidak.

Selain Grafologi adalah alat ukur lain, misalnya cara mengetik seseorang di atas keyboard bisa diukur secara psikologis ?

Bisa saja, tetapi yang dianalisis bukan lagi bentuk tulisannya. Tetapi content atau isi/materi tulisannya. Contohnya; analisis kepribadian Chairil Anwar dari karya novel “Aku”-nya atau dari puisi “Binatang Jalang”-nya. Kalau sudah begitu, metode yang digunakan sudah bukan grafologi lagi tetapi metode analisis eksistensialisme namanya. Namun, kalau tulisan yang dimaksud itu berupa catatan kantor atau dokumen semacamnya ya wis pasti ndak bisa. Mas Adi suka curhat di blog ? suka bikin-bikin cerpen ? monggo kalau mau dianalisis ma saya, tapi siap-siap pecahin celengan ayam yang di rumah……. He he he he……

 

sumber