Keistimewaan pada jari-jemari manusia menunjukkan kebenaran firman Allah yang menyatakan bahwa segala sesuatu ada bekasnya. Allah tidak akan menyia-nyiakan bekas-bekas ini untuk dituntut di yaumil akhir nanti….

Ilmu pengetahuan modern menyingkap banyak hal yang membuat keimanan seorang mukmin terhadap keterangan Al-Qur’an semakin mantap.
Ayat-ayat Allah di dalam Al-Qur’an menjadi benar-benar jelas tergambar dan terbukti kebenarannya manakala kita melihat bukti-bukti nyata dalam alam semesta dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Di antara nikmat Allah yang besar kepada manusia adalah diberikannya tangan dan kaki yang sangat besar kegunaannya. Pada ujung tangan itu ada jari-jemari yang mempunyai banyak sekali fungsi dan kegunaan.
Setiap jari memiliki aktivitas masing-masing sesuai dengan profesi si pemiliknya. Banyak isyarat dilakukan dengan jari, Al-Qur’an juga menggambarkan fungsi jari sebagai alat isyarat.
Orang munafik yang menolak kebenaran dalam Al-Qur’an dilukiskan sebagai orang-orang yang menyumbat telinga dengan jarinya.
“Atazu seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah:19).Menyumbat telinga dengan jari dalam ayat tersebut merupakan kiasan menutup hati dari bimbingan hidayah Allah. Inilah kiasan terdahap orang-orang munafik yang hatinya berpenyakit dan tidak mau menerima akan kebenaran.
Meskipun banyak sekali fungsi dan peranannya, jari-jemari tidak menentukan segalanya dalam aktivitas hidup manusia. Sebab pengendali utama hidup manusia adalah hatinya. Karena itu jari-jemari ini tahu persis apa yang telah dilakukan pemiliknya. Apakah dia membuat kebaikan atau membuat kejahatan, semua ada balasannya.
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebarat zarah pun, niscaya dia akan melihatnya pula” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).
Oleh karena itu bila hatinya berpenyakit, maka perbuatannya akan buruk, bila hatinya sehat manusia menjadi baik. Sebab jari-jemari melakukan tugas yang diperintahkan otak manusia. Otak ini dikendalikan hati yang terdapat di dalam dada.
Dengan sangat indah Nabi Muhammad SAW menggambarkan bahwa hati mukmin berada di antara jari-jemari Ar-Rahman. Artinya: Allah teramat dekat dengan manusia sehingga bisa membolak-balikkan hatinya dari beriman menjadi kufur atau dari kufur menjadi mukmin.
Setiap muslim hendaknya memelihara keteguhan hatinya di dalam agama Allah dan mencegah jari-jemarinya dari perbuatan perbuatan kejahatan. Karena, jari-jemari itu akan menjadi saksi atas apa yang diperbuat pemiliknya.
Dalam Al-Qur’an menyatakan tentang Hari Kiamat dimana jari-jemari manusia yang telah hancur bercampur tanah akan dikembalikan.
“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.” (QS. Al-Qiyamah: 4).
Tahukah kita, bahwa ruas-ruas tulang jari (tapak tangan maupun kaki) kita, terkandung jejak-jejak nama Allah. Perhatikan salah satu tangan-tangan (kanan atau kiri), jari dan jari telunjuk membentuk huruf Lam (dobel) sedangkan ibu jari membentuk huruf Ha.
Jadi apabila digabung, maka akan kita dapati bentuk tapak tangan itu dibaca sebagai Allah (dalam bahasa Arab). Juga tanda 99 (Asmaul Husna) terdapat pada telapak tangan kita. Jika kita perhatikan garis utama kedua telapak tangan kita bertuliskan sebuah angka Arab yaitu 99. Pada telapak tangan kanan artinya angka 18 dan pada telapak tangan kiri yang artinya angka 81.
Jadi bila kedua angka ini dijumlahkah 18 + 81 = 99 yang merupakan jumlah nama atau sifat Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Maka benarlah firman Allah SWT: “Kami akan memperhatikan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat: 5).
Begitu juga dengan sidik jari setiap orang termasuk mereka yang terlahir kembar identik, memiliki pola sidik jari yang khas untuk diri mereka masing-masing dan berbeda satu sama lain.
Dengan kata lain, tanda pengenal manusia tertera pada ujung jari mereka. Sistem pengkodean ini bisa disamakan dengan sistem kode garis (barcode) sebagaimana yang digunakan saat ini.
Itulah mengapa sidik jari dipergunakan sebagai kartu identitas yang sangat penting bagi pemiliknya. Akan tetapi yang penting adalah bahwa keunikan sidik jadi ini baru ditemukan di akhir abad ke-19.
Pada tahun 1880, seorang ilmuwan Inggris bernama Henry Faulds menyatakan dalam suatu artikel yang diterbitkan di Nature bahwa sidik jari orang tidak akan berubah sepanjang hayat mereka kecuali bila terjadi kecelakaan besar.
Sidik jari yang terbentuk pada ujung jari dengan pola nyata pada kulit bersifat sangat unik bagi si pemiliknya. Pada tahun 1884, untuk pertama kalinya seorang pembunuh ditentukan dengan identifikasi sidik jari.
Sejak itulah sidik jari telah menjadi metode yang penting untuk identifikasi. Tapi sebelum abad-19, kebanyakan orang mungkin tidak pernah mengira kalau bentuk sidik jari mereka yang bergelombang itu memiliki makna khusus atau merupakan catatan yang berharga.
Namun dalam Al-Qur’an, Allah merujuk kepada sidik jari yang sedikit pun tidak menarik perhatian orang saat itu, dan mengarahkan kita pada arti penting sidik jari, yang baru mampu dipahami di zaman sekarang ini.
Keistimewaan pada jari-jemari manusia menunjukkan kebenaran firman Allah yang menyatakan bahwa segala sesuatu ada bekasnya. Allah tidak akan menyia-nyiakan bekas-bekas ini untuk dituntut di yaumil akhir nanti.
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yaasin: 12)

SUMBER