Sejumlah pedagang makanan yang berbahan tempe dan tahu mengaku pasrah dengan “hilangnya” tempe di pasaran akibat aksi mogok yang dilakukan pedagang dan produsen bahan makanan berbahan baku kacang kedelai itu.

Pedagang gorengan [google]

“Stok tempe sudah habis, tinggal untuk besok saja. Kalau besok sudah tidak ada tempe, ya terpaksa libur,” kata penjual mendoan Gombong di Jalan Kebayoran Lama Raya,Syaiful Anam(19) Selasa malam.

Syaiful mengatakan “hilangnya” tempe di pasaran akibat mahalnya harga kedelai berimbas pada kehidupannya sebagai rakyat kecil. Sebab, selama ini dia hanya menggantungkan hidupnya dari berjualan mendoan Gombong.

Menurut Syaiful Anam, harga tempe bahan baku mendoan sudah naik sejak beberapa waktu lalu. Namun, dia tidak berani menaikkan harga dari Rp2.000 menjadi Rp2.500 karena khawatir tidak ada yang mau beli.

Hal yang sama dikatakan pedagang warung tegal (warteg) di Jalan Masjid Al Anwar, Kebayoran Lama, Taryono. Dia mengatakan stok tempe mentah yang ada di wartegnya hanya tinggal lima lembar.

“Kalau tidak ada tempe dan tahu terpaksa tidak masak masakan yang berbahan tempe dan tahu. Paling-paling masakan lain yang dibuat lebih banyak,” katanya.

Padahal, warteg tempat Taryono berjualan termasuk ramai pembeli terutama saat buka puasa dan sahur. Saat waktu sahur Rabu dinihari, banyak pembelinya yang meminta tempe sebagai lauknya.

Dia mengatakan hanya bisa pasrah dengan keadaan tersebut. Namun, menurut dia, hal seperti itu sudah pernah dialami sebelumnya.

“Sebelumnya juga pernah selama tiga hari tidak ada tempe di pasar. Terpaksa tidak masak tempe,” ujarnya.

Banyak pedagang dan produsen tahu-tempe di Jakarta mogok berjualan selama tiga hari mulai Selasa (24/7) sehingga stok tahu dan tempe di beberapa pasar nyaris kosong. Aksi mogok itu disebabkan naiknya harga kedelai akibat gagal panen kedelai di Amerika Serikat.  [Ant/L-9]

 

SUMBER