Pemerintah Irak mengaku tidak mampu memberikan bantuan yang memadai bagi para pengungsi Suriah yang melarikan diri dari konflik berkepanjangan di negaranya karena situasi keamanan yang buruk di Irak.

Seorang bocah Suriah berbaring di kamp pengungsian Bashabsha dekat Ramtha, Jordania, Selasa (17/7/2012). Puluhan ribu warga Suriah mengungsi ke negara-negara tetangga, antara lain Turki, Jordania, dan Suriah akibat konflik bersenjata di negara itu. Jordania sendiri menampung lebih dari 140.000 pengungsi Suriah.

“Daerah perbatasan kami adalah kawasan gurun, dan kami tidak dapat menyediakan bantuan bagi para pengungsi karena situasi keamanan,” kata juru bicara pemerintah Ali Dabbagh dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah Iraqiya, Jumat (20/7/2012), untuk menjelaskan alasan Irak tidak akan mampu menolong para pengungsi Suriah.

“Kami menyesal tidak menerima para pengungsi Suriah. Kami tidak seperti Jordania dan Turki — yang daerah perbatasannya merupakan kawasan yang dapat memberikan bantuan layanan bagi para pengungsi. Kami harap kami dapat membantu saudara kami para pengungsi Suriah.”

Puluhan ribu rakyat Suriah meninggalkan negaranya dalam beberapa hari terakhir seiring dengan peningkatan aksi kekerasan, terutama di ibukota Damaskus.

Lebih dari 30.000 rakyat Suriah telah mengungsi ke Lebanon dalam dua hari terakhir, menurut badan pengungsi PBB, dan lebih dari 43.000 yang lain berusaha mencari tempat perlindungan di Turki atau mendirikan kemah-kemah didekat perbatasan sejak Maret 2011.

Sementara itu pihak berwenang Jordania mengatakan hampir 140.000 orang warga Suriah telah berlindung di Jordania.

Dabbagh mengatakan sekitar seribu warga Irak telah kembali ke negaranya dengan menggunakan pesawat dari Suriah sementara sekitar 1.500 yang lain menanti di bandara Damaskus. Ia mengatakan bahwa membawa warga Irak keluar dari Suriah melalui jalan darat sangat “tidak aman”.

Dabbagh memperkirakan pada Kamis bahwa 100.000 hingga 200.000 warga Irak masih bertahan di Suriah.