Nama Indonesia kembali tercoreng di kancah persepakbolaan dunia. Di tengah dukungan luar biasa untuk “Garuda Muda” saat melakoni babak kualifikasi Grup E Piala Asia U-22 melawan Australia, di Stadion Utama Riau Pekanbaru, Kamis (5/7/2012), beberapa suporter tuan rumah melempar botol minum dan petasan ke dalam lapangan saat laga usai.

Aksi tersebut memang tak pernah lepas dari wajah sepak bola Indonesia karena permainan yang menjunjung sportivitas itu, justru menjadi olahraga yang menakutkan baik bagi kawan maupun lawan. Lapang dada menerima kekalahan pun hanya sebatas jargon-jargon bualan yang sangat jarang diaplikasikan dalam lapangan.

Tindakan negatif itu seakan berubah menjadi kebiasaan rutin dan tradisi. Sejumlah kekalahan baik di level klub maupun tim nasional harus diakhiri dengan pameran perilaku negatif yang justru mempertaruhkan harga diri Indonesia.

Lihat saja, kerusuhan antar suporter beberapa waktu lalu yang mengakibatkan sembilan nyawa melayang sia-sia di Lamongan, Jakarta, dan Surabaya hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Belum lagi, lemparan botol yang berujung pembakaran fasilitas umum para suporter Persipura Jayapura ketika kecewa dengan keputusan wasit saat memimpin laga “Mutiara Hitam” versus Persija Jakarta, Mei lalu.

Memalukan

Kubu Australia pun secara lantang menyebut bahwa aksi suporter Indonesia itu sebagai tindakan yang sangat memalukan. Pernyataan itu bukan tanpa alasan, karena petasan dilempar dan meledak persis di depan tempat pemain pengganti “The Socceroos”.

“Mayoritas tim kami jadi ketakutan. Seharusnya para suporter bisa lebih dewasa dalam menerima kekalahan,” ucap Pelatih timnas U-22 Australia, Paul Okon, usai pertandingan yang berakhir 1-0 untuk timnya tersebut.

Kecaman ini bukan pertama kalinya dilayangkan oleh dunia internasional. Pada Piala AFF Suzuki Cup 2010 lalu, Federasi Sepak bola Filipina dan pihak AFF sempat mempermasalahkan aksi negatif suporter tuan rumah yang membunyikan terompet dan menyalakan petasan saat lagu kebangsaan Filipina dikumandangkan.

“Fans Indonesia memukuli bus tim Filipina saat memasuki kompleks Stadion. Meneriakkan caci maki dan menunjukkan bahasa tubuh yang tidak sopan. Ada 3.000 tambahan petugas Kepolisian yang ditugaskan di Stadion Bung Karno. Tetapi mereka hanya sedikit melindungi bus tim Filipina dari suporter di luar venue,” tulis salah satu media Filipina ketika itu.

Lebih dewasa

Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Djohar Arifin Husin, mengatakan agar para suporter Indonesia bisa lebih dewasa. Khusus untuk laga kualifikasi Piala Asia U-22, ia berharap agar Federasi Sepak bola Asia (AFC) tidak menjatuhkan sanksi bagi Indonesia.

“Kami berharap itu tidak diberikan sanksi karena terjadi usai pertandingan. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Suporter harus mendukung timnas kita dengan cara yang benar dan sportif,” ucap Djohar.

Hal senada diungkapkan asisten pelatih timnas U-22, Liestiadi. Ia juga mengkritik kesigapan aparat keamanan dalam menjaga ketertiban suporter. Aparat dinilai kurang maksimal dan lambat merespons insiden tersebut.

“Sebagai bangsa yang besar mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa suporter kita bisa menerima kekalahan dengan sikap dewasa,” harap Liestiadi.

Sementara itu, Gubernur Riau, Rusli Zainal, mengaku pengamanan dalam Stadion memang kurang diberlakukan secara maksimal, karena sejumlah suporter dapat membawa petasan. Ia pun berjanji, akan menambah menambah jumlah aparat keamanan yang dalam pertandingan tersebut berjumlah 700 personel.

“Saya selaku Pemerintah Provinsi Riau meminta maaf atas kejadian kecil itu. Padahal, sesungguhnya antusias dan dukungan masyarakat sudah luar biasa,” kata Rusli.

Sejumlah fakta itu menunjukkan bahwa pembinaan kepada para suporter sangat mendesak dan ini perlu melibatkan banyak pihak. Tak cukup hanya dengan harapan pemberian sanksi, permintaan maaf, maupun rasa penyesalan saja. Tentu, energi untuk meraih prestasi tak akan terbagi jika para suporter tak selalu bikin ulah.

 

sumber